Kamis, 26 Februari 2015
Modif Dua Merk,Satu Aliran
Perbedaan merek dua pabrikan motor, bukan menjadi halangan untuk
menyamakan aliran modifikasi. Adalah Fery Mauludin pembesut Honda Mega
Pro dan Irfan Bondus yang punya Yamaha Scorpio Z membangun motor jadi
keluarga Minor Fighter. Acuan modifikasinya sudah tentu street fighter.
Kalo sudah sehati tinggal realisasi. Kedua sahabat ini, mempercayakan rebuild ke Dien’s Bike, yang ngendon di Jl. Kolonel Sugino No. 24, Pondok Bambu, Jakarta Timur. Dien’s Bike memang tergolong produktif urusan modifikasi.
“Kami bosen dengan aliran modifikasi motor sport yang monoton.
Kami sebagai pembesut motor batangan jangan sampe biasa-biasa aja,”
kompak sahabat dari keluarga Minor Fighter (MF) Simpul Jakarta ini. Biar
lebih tahu dan tahu lebih, nyok kita bedah ubahan kedua motor sahabat
ini.

KOMPAK PILIH UPSIDE DOWN
Untuk meredam getaran akibat jalan raya Indonesia yang kurang bersahabat, keduanya kompak aplikasi sok model upside down di haluan depan. Namun untuk pemilihan merek, mereka ogah sama. Scorpio Irfan, mengusung copotan satu atap alias sepabrik, doi pakai sok Yamaha R1. Sedangkan di Mega Pro Fery sedikit selingkuh dengan pabrikan lain, adopsi Suzuki GSX-R 400.
“Pemasangan kedua sok upside down ini, tinggal penyesuaian di bagian as komstir. Seperti di motor Scorpio, as komstir kepunyaan Yamaha R1 harus dikecilkan dulu agar bisa dipasang di lubang komstir Scorpio,” jelas Hanas Choerudin yang biasa dipanggil Udin sang modifikator.

FULL FRAME DAN 50% CUSTOM
Yang dimaksud full frame custom yaitu semua frame atau sasis motor dibuat ulang. Untuk modifikasi full frame custom dilakukan di Scorpio biru buntung.
Dari 50% frame custom yaitu sasis original yang diambil hanya centerbone saja. Sedangkan backbone dipotong dan digantikan dengan rangka baru yang juga berbahan seamless. “Ukuran diameter pipa seamless yang digunakan antara 1, 1,5 dan ¾ inci.
“Ubahan ini bukan karena beda pendapat. Tapi, karena keadaan rangka Scorpio, ketika mengalami penggantian mono arm, rantai mentok ke sasis dudukan arm. Jalan satu-satunya rangka harus dibuat ulang,” kata Udin.
Sedangkan di Mega Pro masih aman ketika menggunakan arm lebar. Karena tipe sasis yang mono tube. Bayangkan gir depan saja tergeser hingga 6 cm dari standarnya. “Tapi karena inilah full frame custom jadi sebuah virus yang merambah di MF Simpul Jakarta,” seru Udin.

LENGAN AYUN OGAH SAMA
Modifikasi aliran boleh sama, namun selera keduanya jangan sampe disamakan. Nanti malah jadi motor kembaran, kan malah monoton. Buat memperkuat aura street fighter, harus mengalami banyak ubahan. Seperti penggantian swing arm. Biar membumi, Fery lebih memilih lengan ayun seperti kabanyakan yang masih double arm, aplikasi dari Honda CBR 1100 XX. Dipadukan pelek lebar Kawasaki ZX-7R dan ban gembot kepunyaan Michelin.
Sedangkan Irfan adopsi mono arm kepunyaan motor asal Inggris yang berngaran Triumph Daytona, satu set dengan pelek belakang. Tapi, pelek depan doi malah aplikasi kepunyaan Yamaha R1. “Biar lebih keren dibanding yang lain, dan bikin virus baru di kalangan keluarga Minor Fighter,” seru Irfan yang bukan Irfan Bachdim.
“Penyesuaian sudah pasti dibagian dudukan lengan ayun, semua swing arm disesuaikan ke rangka saja. Karena ukuran swing arm yang lebar otomatis, gir belakang harus ngikutin dan solusinya 6 gir ditumpuk lantas dilas agar garis pertemuan gir depan belakang bisa center,” seru Udin yang bukan Udin Petot. He..he...

BUNTUNG VS BEREKOR
Ciri khas dari sononya memang Keluarga Minor Fighter, buntutnya buntung seperti modif di Scorpio biru ini. Tapi, kan yang namanya keluarga bebas saja untuk memilih buntut model buntung atau berekor. “Yang pasti mah single seater deh,” kata Fery yang keluarga Minor Fighter Simpul Jakarta ini.
Pemanjangan buntut alias ekor di Mega Pro ini lewat aplikasi pipa seamless ¾ inci yang dibikin sekitar 50 cm. lanjut dibalut cover berbahan fiber, untuk penutup backbone baru biar lebih tampil ciamik dan rapi yang didesain meruncing kebelakang. Dikombinasi stop lamp LED, biar aman ketika mau berhenti.
Buntut Scorpio dibikin dari pipa besi dengan ukuran sama namun panjangnya hanya dibedakan 20 cm. Sehingga didapat kesan buntung.
Buat mempertegas Keluarga Minor Fighter, Irfan sedikit ngasih tanda di jok yang dibikin buntung dengan patch bertulisan “MINOR FIGHTER-WILD RADICAL RESPECT”. Irfan juga tak lupa untuk memasang stoplamp bernuansa LED. Wih kompak tuh he he.
DATA MODIFIKASI
Honda Mega Pro
Sok belakang: Kawasaki ZX-7R
Knalpot : Custom by Stanlee
Paint work : Danagloss
Pelek : Kawasaki ZX-7R
Yamaha Scorpio Z
Spidometer : Koso RX-1N
Lampu depan : Hella
Sok belakang : Honda CBR 1000R
Knalpot : Custom by IMS Chuenk Footstep : Yamaha R6
Kalo sudah sehati tinggal realisasi. Kedua sahabat ini, mempercayakan rebuild ke Dien’s Bike, yang ngendon di Jl. Kolonel Sugino No. 24, Pondok Bambu, Jakarta Timur. Dien’s Bike memang tergolong produktif urusan modifikasi.
Untuk meredam getaran akibat jalan raya Indonesia yang kurang bersahabat, keduanya kompak aplikasi sok model upside down di haluan depan. Namun untuk pemilihan merek, mereka ogah sama. Scorpio Irfan, mengusung copotan satu atap alias sepabrik, doi pakai sok Yamaha R1. Sedangkan di Mega Pro Fery sedikit selingkuh dengan pabrikan lain, adopsi Suzuki GSX-R 400.
“Pemasangan kedua sok upside down ini, tinggal penyesuaian di bagian as komstir. Seperti di motor Scorpio, as komstir kepunyaan Yamaha R1 harus dikecilkan dulu agar bisa dipasang di lubang komstir Scorpio,” jelas Hanas Choerudin yang biasa dipanggil Udin sang modifikator.
Yang dimaksud full frame custom yaitu semua frame atau sasis motor dibuat ulang. Untuk modifikasi full frame custom dilakukan di Scorpio biru buntung.
Dari 50% frame custom yaitu sasis original yang diambil hanya centerbone saja. Sedangkan backbone dipotong dan digantikan dengan rangka baru yang juga berbahan seamless. “Ukuran diameter pipa seamless yang digunakan antara 1, 1,5 dan ¾ inci.
“Ubahan ini bukan karena beda pendapat. Tapi, karena keadaan rangka Scorpio, ketika mengalami penggantian mono arm, rantai mentok ke sasis dudukan arm. Jalan satu-satunya rangka harus dibuat ulang,” kata Udin.
Sedangkan di Mega Pro masih aman ketika menggunakan arm lebar. Karena tipe sasis yang mono tube. Bayangkan gir depan saja tergeser hingga 6 cm dari standarnya. “Tapi karena inilah full frame custom jadi sebuah virus yang merambah di MF Simpul Jakarta,” seru Udin.
Modifikasi aliran boleh sama, namun selera keduanya jangan sampe disamakan. Nanti malah jadi motor kembaran, kan malah monoton. Buat memperkuat aura street fighter, harus mengalami banyak ubahan. Seperti penggantian swing arm. Biar membumi, Fery lebih memilih lengan ayun seperti kabanyakan yang masih double arm, aplikasi dari Honda CBR 1100 XX. Dipadukan pelek lebar Kawasaki ZX-7R dan ban gembot kepunyaan Michelin.
Sedangkan Irfan adopsi mono arm kepunyaan motor asal Inggris yang berngaran Triumph Daytona, satu set dengan pelek belakang. Tapi, pelek depan doi malah aplikasi kepunyaan Yamaha R1. “Biar lebih keren dibanding yang lain, dan bikin virus baru di kalangan keluarga Minor Fighter,” seru Irfan yang bukan Irfan Bachdim.
“Penyesuaian sudah pasti dibagian dudukan lengan ayun, semua swing arm disesuaikan ke rangka saja. Karena ukuran swing arm yang lebar otomatis, gir belakang harus ngikutin dan solusinya 6 gir ditumpuk lantas dilas agar garis pertemuan gir depan belakang bisa center,” seru Udin yang bukan Udin Petot. He..he...
Ciri khas dari sononya memang Keluarga Minor Fighter, buntutnya buntung seperti modif di Scorpio biru ini. Tapi, kan yang namanya keluarga bebas saja untuk memilih buntut model buntung atau berekor. “Yang pasti mah single seater deh,” kata Fery yang keluarga Minor Fighter Simpul Jakarta ini.
Pemanjangan buntut alias ekor di Mega Pro ini lewat aplikasi pipa seamless ¾ inci yang dibikin sekitar 50 cm. lanjut dibalut cover berbahan fiber, untuk penutup backbone baru biar lebih tampil ciamik dan rapi yang didesain meruncing kebelakang. Dikombinasi stop lamp LED, biar aman ketika mau berhenti.
Buntut Scorpio dibikin dari pipa besi dengan ukuran sama namun panjangnya hanya dibedakan 20 cm. Sehingga didapat kesan buntung.
Buat mempertegas Keluarga Minor Fighter, Irfan sedikit ngasih tanda di jok yang dibikin buntung dengan patch bertulisan “MINOR FIGHTER-WILD RADICAL RESPECT”. Irfan juga tak lupa untuk memasang stoplamp bernuansa LED. Wih kompak tuh he he.
DATA MODIFIKASI
Honda Mega Pro
Sok belakang: Kawasaki ZX-7R
Knalpot : Custom by Stanlee
Paint work : Danagloss
Pelek : Kawasaki ZX-7R
Yamaha Scorpio Z
Spidometer : Koso RX-1N
Lampu depan : Hella
Sok belakang : Honda CBR 1000R
Knalpot : Custom by IMS Chuenk Footstep : Yamaha R6
Honda Tiger Modif Real Fighter
Anas Choerudin dari Dien’s Bike (DB)
Jakarta, merupakan salah satu builder bergaya street fighter (SF) dengan
ciri khas permainan detail kuat. Seperti dilakukan di Macan Noceng
alias Honda Tiger milik Eko Purwanto yang bekerja di PT Astra Honda
Motor (AHM).
“Akhir tahun ini saya menonjolkan tema tajam dan runcing pada lekuk bodi. Bodi SF yang gendut-gendut saya tinggalkan. Hasilnya ya seperti ini, karakter kuat ditonjolkan dengan bentuk penuh lekuk dan menyiku,” buka Udin, panggilan beken modifikator berambut jabrik ini.
Makanya ubahan bodi jadi super detail. Hitungan, pasti! Pertama hitungan konstruksi bodi. Modifikator ramah ini merangkai pola bodi dengan konsep street fighter ala West Jateng Style alias WJS. Cirinya jok single dengan bentuk bodi minimalis. Namun tidak asal nempel bodi, tapi beberapa bagian item bodi dibuat detail dengan ornamen menarik.
Pengaruh gaya WJS ini merupakan efek dinamis dalam satu wadah. Yaitu DB merupakan salah satu roda penggerak modifikasi bergaya SF di Jakarta dengan latar belakang satu kaum Minor Fighter (MF). Pelopornya tentu saja Agus Djanuar from rumah modifikasi XKBD, Purwokerto. Dulu Udin belajar bermain fiberglass dari Agus DJ. Makanya kental pengaruh WJS.
Olahan sasis, modifikator kucil alias kurus kecil ini cuma memotong 25 cm frame asli belakang. Lantas frame diganti pipa diameter 22,5 mm dengan desain naik. Sebab bagian buntut dibuat nungging sedikit.
"Eko merupakan biker yang suka aksi. Doi cuma pesan bikin bodi simpel dan daily use. Bukan hanya malam minggu dipakai, tapi bisa dipakai harian juga,” cuap Udin dari gerainya di Jl. Kolonel Sugiono No. 24, Pondok Bambu, Jakarta Timur.
Ciri desain serba sharp nongol pada semua sektor. Bagian awal olahan bodi fokus pada dimensi tangki. Bentuk tangki, Udin hanya mengukur dimensi tempat duduk, dibuat dengan tinggi sekitar 70 cm dari atas tanah. Sesuai dengan tinggi Eko si empu-nya motor.
Terlihat besar memang, namun jika ditengok dari atas baru ketahuan kalau dimensi tangkinya sebenarnya kecil. “Sengaja dibuat pipih pada bagian belakang, agar enak dikempit jika dipakai riding. Terlihat besar sebab saya bikin tanpa shroud atau sayap tangki. Agar tangki terlihat padat,” jelas modifikator yang enggak pernah sepi order ini.
Efek tangki terasa jumbo juga berasal dari bentuk buntut pipih. Ornamen dibuat minimalis dengan lekukan tajam hingga ujungnya. Mantap!
DATA MODIFIKASI
Ban depan: Metzeller 120/60-17
Ban Belakang: Michelin 190/50-17
Swing arm: GSX 600
Sok depan: ZX 750
DB: 0812-2818-8273
Kawasaki Ninja 250 Modif 360 Derajat
Kebanyakan Kawasaki Ninja 250R dimodifikasi
sport full fairing atau klasik sekalian. Berbeda dengan Wildan yang
tidak suka tampilan motor sport. “Supaya menarik mata pengguna jalan
lain, diubah model Minor Fighter (MF),” bilang Wildan from Suroboyo.
Proses perubahan dilakukan KM7 Modified di Jl. Keputih Timur, Surabaya. Dituding sebagai bengkel khusus menangani ubahan tersebut.
Sub frame Ninja 250R diamputasi untuk diganti model nungging. “Menggunakan pipa besi diameter 1,5 cm. Tidak terlalu besar, hanya pakai 2 pipa supaya terlihat lebih kokoh daripada 1 pipa tapi besar,” ungkap Surya Mahardika, bos MF asal Tulunggung itu.
Mengikuti bodi belakang yang ramping, Surya melanjutkan dengan ubahan tangki yang sengaja dibuatkan ulang dari fiberglass. “Diperkecil kapasitas tangki kini jadi 6 liter,” urai pria yang suka film warkop DKI ini.
Setelah tangki selesai, Surya melihat rongga kosong di sisi bawah tangki. Sekalian dibuatkan rangka tubular untuk menutupi kekosongan di bagian tersebut.“Pakai pipa berdiamter 3,8 cm. Dibuat bercabang untuk penahan airscoop yang ada di kanan dan kiri,” imbuh juragan KM7.
MF lebih cocok digabungkan kaki-kaki limbah moge. Mulai dari pelek, monosok, pro arm disumbang Ducati 1098. “Namun mesti menambah besi U untuk mengapit pro arm,” ungkap modifikator muda ini.
Kalau sudah berubah seperti ini dijamin banyak mata yang melirik ya bro.He.. he.. he..
DATA MODIFIKASI
Ban depan : Michelin 190/55-17
Ban belakan : Pirelli Diablo 120/70-17
Knalpot : Ducati Paniagle
Arm : Pro Arm Ducati
KM7 Modified : 0856-4906-9001
Senin, 19 Januari 2015
Modifikasi Vario150 pertama di indonesia.
![]() |
Yang pertama kali terekpos jelas kaki-kakinya, mata tidak akan lepas dari sektor tersebut, yang kedua, jelas wajahnya, seperti kenal tapi kok berbeda.. Jelas lah wong bagian atas mukanya sudah dipermak kaya permak levis :D
Penasaran, mang Saka berkeliling memutari sosok Vario Maxi ini, apa saja ya yang diganti selain kaki-kaki dan wajah? Okeh simak yah baraya, biar ahoyyy…
![]() |
Meski headlampnya sangat Vario sekali , namun terlihat berbeda karena bagian atasnya menggunakan windshield PCX. What? Berarti bagian atas rubah semua dong? Betul sekali
![]() |
Vario Modif ini sudah menggunakan tipe setang jepit dari merek NUI Racing. Posisinya juga menjadi lebih pendek baraya… membuat sedikit menunduk, ahooyy…
-Area Speedometer
Ubahan sektor setang jelas membuat speedometer lawas jadi hilang, sebagai gantinya digunakanlah speedometer digital dari Koso, entah tipe berapa.
-Sektor Bodi
Untuk joknya sudah dirubah menjadi tipe semi single seat, meski terlihat satu tempat duduk namun masih ada ruang untuk pembonceng. Bagian buritan juga dibuat ala motor sport dengan style buntut tawon
-Exhaust
Untuk menunjang penampilannya yang sudah sporty, exhaust dibuat secara custom Hampi Mirip Kawasaki H2 untuk mengimbangi tampilan yang ada
-Kaki-Kaki
Ini dia yang mendapat sentuhan lebih. Ban depan gambot dari swallow dengan ukuran 120/70/14, belakangnya sial lupa, tapi sepertinya 140/70/14 baraya…. Suspensi depan sudah Up Side Down! Dengan menggunakan segitiga bawah sepertinya milik motor sport/laki.
Suspensi belakang
masih satu dengan ulir berwarna merah, tidak jelas dari merek apa karena tidak terlihat euy baraya. Nah yang paling juoss itu adalah velgnya, menggunakan merek gram lights!! Gram lights merupakan velg yang dibuat oleh merek dagang Rays, nama terkemuka di dunia roda empat, nama yang sama yang mengeluarkan merek Volk Racing dan Homura. Ini sih mahal di velg keknya :D
Sementara itu sektor pengereman sudah menganut cakram dobel, depan dan belakang. Akibat pemakaian ban dan velg lebar serta pengaplikasian rem cakram belakang, maka air filter chamber harus dipensiunkan…
![]() |
| Bagian Belakang Kiri |
![]() | |||
| Depam Kanan |
Berapa dana yang sudah dihabiskan untuk membuat modifikasi New Vario 150 menjadi seperti ini? Dikabarkan mencapai -+35 juta baraya!! Ueedan, bisa dapat dua unit Vario 150 tipe exclusive nih… Harga sebuah kepuasan modifikasi memang langit lah batasnya :)
Honda Mega Pro 2011 Modif Body Full Custom
Jakarta
- M. Mansur, bekerja di salah satu perusahaan perakitan motor. Untuk
aktifitas sehari-hari ke kantor selalu mengendarai Honda Mega Pro.
“Bosan sama aliran minor fighter, makanya sekarang diubah lagi dan kali
ini biar lebih rapi,” bukanya.
Konsep
yang diinginkan gak jauh dari sebelumnya, yakni street fighter dipadukan
dengan bodi dan ban gambot membuat tampilan lebih padat. Buat melakukan
proses ubahan yang diinginkan Mansur, maka motor langsung dikirim ke
Bengkel Modif X-treme Custom alias BMX Custom daerah I Gusti Ngurah Rai,
Cipinang, Jaktim.
“Sesuai
permintaan, maka diapliaksikan full body custom dari fiberglass.
Sedangkan kaki-kaki tunggangan pake produk aftermarket profil lebar.
Pengerjaan diperkirakan bisa selesai sekitar 1 bulan,” bilang Daeng
Maming, modifikator BMX Custom.
Nih, foto tunggangan si Mansur, bro! •(otomotifnet.com)
| -Riding makin gagah dengan setang lebar dari baros |
-Swing arm Custom ala Kawasaki Ninja ZX-6
|
| -Suspensi depan diredam upside down merek Zox |
DATA SPESIFIKASI
Pelek depan-belakang : V-Rossi, 3 inci & 4,5 inci
Ban depan-belakang : Corsa, 90/80-17 & Comet 150/60-17
Sok depan : Zox
Cakram depan-belakang : aftermarket
Cakram depan-belakang : aftermarket
Bodi : full custom fiber
Batok lampu : handmade Custom
Tangki : kondom Bajaj Pulsar 220
Buntut : Ducati
Jok : custom
Jok : custom
Setang : Baros
Handle rem : NUI
Knalpot : Nob1 SS
Esimasti biaya : Rp 13 jutaan
BMX Custom : 0815-84990915/085880640409
Modifikasi Suzuki GSX400 1986 Versi Fighter
Tangerang - Bawaan lahir Suzuki GSX400 lansiran 1986 ini berkonsep full fairing (FF). Lantaran Bambang Irawan bosan pakai motor ber-fairing, akhirnya digelandang ke Berkat Motor (BM) untuk bikin baju baru.
“Ingin tampil beda gaya street fighter (SF), biar lebih macho dan gahar. Motor boleh tua, tapi tampilan mesti dijaga biar enggak kalah dengan motor-motor baru zaman sekarang,” tutur pria ramah itu.
Setang fatbar diandalkan untuk memperkuat tongkrongan SF
Nah, untuk mewujudkan keinginan pelanggan, Rudy Gunawan, empunya BM langsung bikin bodi custom berbahan fiberglass sesuai order.
“Buntut bergaya Ducati 848, batok lampu ala Kawasaki Z250. Sedangkan tangki bensin comot Honda CBR1000 biar tampil lebih gambot,” ucap modifikator di Jl. Ciledug Raya, Kreo, Tangerang ini.
Buntut bergaya Ducati 848 demi kejar kesan SF
Lalu biar swing arm terlihat lebih berotot dan fresh, dibungkus kondom swing arm ala GSX1000. “Oh ya, supaya kesan SF lebih menonjol, setang jepit orisinalnya saya ganti pakai setang model fatbar dan penambahan raiser,” imbuh modifikator pengalaman lebih dari 10 tahun.
Mantap bro.
Tangki bensin : CBR1000
Buntut : Ducati 848 (custom)
Swing arm : Custom
Stoplamp : Ducati (orisinal)
Headlamp : Z250
Knalpot : Custom
Estimasi biaya : Rp 20.xxx.xxx
Sumber : Otomotifnet.com
Rabu, 19 November 2014
Harley-Davidson Bertenaga listrik

HD mungkin terlambat memperkenalkan motor listrik. Tapi coba lihat desainnya, masih tetap HD, hehe. Apalagi
HD dikenal dengan citra motor bongsor yang laki bangat. HD bikin motor
tak memandang soal irit-iritan, yang penting kuat dan besar. Sekarang
bikin motor listrik yang jelas dikenal hemat enrgi. “Ini permintaan langsung dari konsumen di seluruh dunia,” bilang Matt Levatich, President and Chief Operating Officer of Harley-Davidson Motor Company.
Performa engine HD LiveWire dengan teknologi EV [Electric Vehicle] yang tak ada suara. Ya namanya juga listrik. Bertolak belakang dengan HD sesungguhnya yang bersuara stereo yang menggentarkan. Namun katanya tenaganya seperti pesawat jet.
Levatich lalu menambahkan, untuk memainkan peran kunci dalam mengembangkan standar kendaraan listrik, harus ada jaringan dealer penyedia langsung stasiun pengisian baterai. “Kami
berharap untuk menjadi pengembangan standar dan teknologi EV, maka
dibutuhkan pula infrastrukturn dan utilitas kendaraan listrik,” tambah
Levatich sambil bilang butuh anggaran besar pula buat menyediakan
stasiun pengisian baterai tersebut.
Suzuki Shogun 2004, Imajinasi Jantan
Sahabat Modifikator -- Mimpinya supermoto, motor gabungan pelahap aspal dan tanah. Pula, motor yang bisa loncat-loncat. Tetapi, hasilnya street fighter si jagoan cakar aspal. Raja jalanan! Belakangan diakui sebagai low riders alias motor tiarap yang lebih banyak dipajang.
Jangan coba-coba ditelanjangi, asli motor ini nanti ketahuan. Au... zangan, dong. Mayu..! Ini Suzuki Shogun 2004. Yii,
telanjang juga. Butuh berpikir keras menyulapnya jadi jantan.
“Supermoto wakil dari motor serbabisa. Saya inginnya seperti itu,” amin
Rudi Permana, orang Purwokerto, Jawa Tengah. Pmilik modif, penggemar berat supermoto. Dia serahkan proyek pada Billy Custom.
Garpu atau fork
depan model teleskopik panjang. Dulu, disebut sokbreker ayam jago.
Ditambah monosok dengan paket bawaan lengan ayun yang panjang. Dengan
komposisi ini, sementara konsep supermoto berjalan. Kira-kira sebentar
lagi akan terwujud mimpi Pak Rudi. Kalau mau cepat sih, lihat fotonya
dong.
Dari pada bikin rangka tambahan atau back-bone,
lebih bagus pelat galvanis jadi bodi. Walah, si Topo dari Tauco Custom
Builder (TCB) dapat saingan. Si Topo itu, saban bicara sebut galvanis.
Katanya, seni modifikasi yang tidak ternilai merancang galvanis jadi
bodi. Po, po… kirain di kolong Indonesia ini hanya yang bernama Topo yang bisa.
Dari bodi galvanis ini mimpi supermoto buyar. Mungkin saat lagi nyenyak bermimpi, keburu bangun. Kucing lewat menjatuhkan piring, priiiing..! Supermoto pun jadi street fighter. Postur bodinya lebih pendek, meninggalkan roda belakang. Itu ciri raja jalanan. Sedang supermoto dasarnya dari special engine. Tangki pipih dan jok sampai belakang tipis. “Iya, ya,” celetuk Rudy sambil mengucak matanya.
Sumbu roda keburu panjang untuk kejar mimpi. Bahkan, kepanjangan untuk ukuran supermoto. Konstruksi monosok lebih miring, membuat belakang jadi rendah. Ini diimbangi menurunkan sokbreker depan, lebih pendek.
Jadilah Imajintor Tinggi. Fahrul
Sumber : http://duniamotormodif.blogspot.com
Data Modifikasi
| - Sokbreker depan | : Custom USD |
| - Monosok | : Satria RR |
| - Pelek depan | : Sprint 2.50x17 |
| - Pelek belakang | : Sprint 3.00x17 |
| - Ban depan | : Swallow 110/60-17 |
| - Ban belakang | : Swallow 130/60-17 |
| - Footstep belakang | : Satria FU |
| - Lampu depan | : Custom foglamp |
| - Tail light | : Revo |
| - Kenalpot | : Yoshimura |
| - Lengan ayun | : Hand made |
| - Cakram set belakang | : Satria set |
| - Bodi | : Full custom plat |
| - Biaya modifikasi | : Rp 9 juta |
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



















